Senin, 21 September 2015

Keriput bukan berarti Tua, Tua bukan berarti Lemah


 “Kalau masih bisa kerja, ya kerja! Kebanyakan di rumah kalo udah tua gampang mati!” kata Tony “Ahon”


          Tony atau yang lebih dikenal sebagai Ahon ini biasa kita jumpai di Kantin Luar UBM atau yang biasa disebut sebagai “bedeng” menjual bakmi. Perawakan seperti pada umumnya orang dewasa, dengan rambut yang sudah agak memutih dan muka yang agak keriput, Tony tidak patah semangat untuk bekerja. Keramahan yang Ia berikan terhadap setiap pembelinya juga menjadi faktor utama keramaian usaha bakmi tersebut. Setiap pelayanannya sangatlah asik dan tidak kaku waktu berkomunikasi dengan orang lain dan juga senyum yang selalu melengkung dari wajahnya membuat setiap orang yang berbicara dengannya menjadi bahagia. Di samping itu, cita rasa yang diberikan oleh setiap masakan Tony sangatlah menggugah selera. Tidak sedikit orang yang memesan menu makanan pada Tony ini menambah porsi makanannya supaya terpuaskan hasrat akan bakmi tersebut.
          Lelaki kelahiran 1955 ini memiliki latar belakang cerita yang sangat inspiratif. Berbekal niat dan kemauan yang kuat untuk bekerja, pada tahun 1975, Tony memutuskan untuk terbang ke Tangerang dari Kalimantan untuk mengadu nasib di kota besar. Memulai pekerjaan sebagai buruh pabrik di sebuah perusahaan resleting milik Hongkong, Tony cukup puas dengan penghasilannya yang lumayan tersebut. Pada awal tahun 1984, Ia mulai jenuh dengan pekerjaannya, sehingga Ia mengundurkan diri dan memulai usahanya sendiri sebagai penjual jamu. Menjadi penjual jamu adalah sebuah mata pencaharian yang dipandang sebelah mata sekarang ini. Namun, itu tidak dipikirkan oleh Tony saat itu. Banyak hal yang Ia dapatkan saat menjadi penjual jamu. Tony menjual jamu di kalangan pabrik. Maka dari itu, Ia mendapat banyak informasi dari segenap buruh pabrik yang mampir di kedai jamunya tersebut. Mulai dari keadaan pabrik, birokrasi sampai dengan politik bias Tony dapatkan dari mereka hanya dengan berbicara akrab saja dengan mereka. Tony menggeluti usaha jamunya ini hingga 10 tahun lamanya. Ia berhenti karena adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat itu. Krisis ekonomi yang terjadi saat itu menyebabkan pabrik pabrik yang ada menjadi bangkrut, oleh karena itu buruh buruh pabrik yang menjadi langganan Tony satu persatu kembali ke tempat asalnya dan kedai jamu yang Tony miliki sudah tidak memiliki pelanggan lagi.
          Bapak dari 2 anak ini meneruskan pekerjaannya dengan usaha catering. Mulai belajar untuk memasak hidangan hidangan yang lezat dan juga dengan bantuan istri. Namun pada tahun 2002, istrinya meninggal. Namun, Ia tetap meneruskan usahanya sampai tahun 2005. Setelah itu barulah Ia membuka usaha di “bedeng” menjual bakmi hingga saat ini.
          “Kalau masih bisa kerja, ya kerja! Kebanyakan di rumah kalo udah tua gampang mati!” kata Tony saat saya mewawancarainya di Bakmi Cicong miliknya. Hal inspiratif yang saya dapat adalah Jangan menyerah dan konsisten pada apa yang kita tuju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar