“Kalau
masih bisa kerja, ya kerja! Kebanyakan di rumah kalo udah tua gampang mati!”
kata Tony “Ahon”
Tony
atau yang lebih dikenal sebagai Ahon ini biasa kita jumpai di Kantin Luar UBM
atau yang biasa disebut sebagai “bedeng” menjual bakmi. Perawakan seperti pada
umumnya orang dewasa, dengan rambut yang sudah agak memutih dan muka yang agak
keriput, Tony tidak patah semangat untuk bekerja. Keramahan yang Ia berikan
terhadap setiap pembelinya juga menjadi faktor utama keramaian usaha bakmi tersebut.
Setiap pelayanannya sangatlah asik dan tidak kaku waktu berkomunikasi dengan
orang lain dan juga senyum yang selalu melengkung dari wajahnya membuat setiap
orang yang berbicara dengannya menjadi bahagia. Di samping itu, cita rasa yang
diberikan oleh setiap masakan Tony sangatlah menggugah selera. Tidak sedikit
orang yang memesan menu makanan pada Tony ini menambah porsi makanannya supaya
terpuaskan hasrat akan bakmi tersebut.
Lelaki
kelahiran 1955 ini memiliki latar belakang cerita yang sangat inspiratif.
Berbekal niat dan kemauan yang kuat untuk bekerja, pada tahun 1975, Tony
memutuskan untuk terbang ke Tangerang dari Kalimantan untuk mengadu nasib di
kota besar. Memulai pekerjaan sebagai buruh pabrik di sebuah perusahaan
resleting milik Hongkong, Tony cukup puas dengan penghasilannya yang lumayan
tersebut. Pada awal tahun 1984, Ia mulai jenuh dengan pekerjaannya, sehingga Ia
mengundurkan diri dan memulai usahanya sendiri sebagai penjual jamu. Menjadi
penjual jamu adalah sebuah mata pencaharian yang dipandang sebelah mata
sekarang ini. Namun, itu tidak dipikirkan oleh Tony saat itu. Banyak hal yang
Ia dapatkan saat menjadi penjual jamu. Tony menjual jamu di kalangan pabrik.
Maka dari itu, Ia mendapat banyak informasi dari segenap buruh pabrik yang mampir
di kedai jamunya tersebut. Mulai dari keadaan pabrik, birokrasi sampai dengan
politik bias Tony dapatkan dari mereka hanya dengan berbicara akrab saja dengan
mereka. Tony menggeluti usaha jamunya ini hingga 10 tahun lamanya. Ia berhenti
karena adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat itu. Krisis ekonomi
yang terjadi saat itu menyebabkan pabrik pabrik yang ada menjadi bangkrut, oleh
karena itu buruh buruh pabrik yang menjadi langganan Tony satu persatu kembali
ke tempat asalnya dan kedai jamu yang Tony miliki sudah tidak memiliki
pelanggan lagi.
Bapak
dari 2 anak ini meneruskan pekerjaannya dengan usaha catering. Mulai belajar
untuk memasak hidangan hidangan yang lezat dan juga dengan bantuan istri. Namun
pada tahun 2002, istrinya meninggal. Namun, Ia tetap meneruskan usahanya sampai
tahun 2005. Setelah itu barulah Ia membuka usaha di “bedeng” menjual bakmi
hingga saat ini.
“Kalau
masih bisa kerja, ya kerja! Kebanyakan di rumah kalo udah tua gampang mati!”
kata Tony saat saya mewawancarainya di Bakmi Cicong miliknya. Hal inspiratif
yang saya dapat adalah Jangan menyerah dan konsisten pada apa yang kita tuju.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar