Senin, 28 September 2015

Perbaikan Feature Johanes


         
 Toni adalah seorang kakek tua yang berumur 60 tahun. kakek parubaya ini memiliki 1 Istri dan mempunyai  2 anak,1 putri dan 1 putra. Ke dua anaknya ,satu telah menikah dan sudah tidak serumah lagi dengan Beliau, hanya siputra bungsulah yang masih tinggal serumah dengan beliau. Di usianya yang sudah tua beliau tetap bekerja keras demi menafkahi keluarganya dan membiayai putra terakhirnya untuk meneruskan sekolah.
Keadaan ekonomilah yang membuat kakek tuan rentan ini  nekat dan terus bekerja demi mengumpulkan pundi-pundi Uang receh dari penghasilan berjualan Mie ayam, yang Uang hasilnya beliau gunakan untuk menafkahi keluarganya dirumah dan mebiayai putranya kuliah perguruan tinggi. Setiap hari kakek setengah abad lewat ini, bangun pagi bahkan sebelum matahari terbit Beliau sudah siap dengan motor dan keranjangnya untuk belanja ke pasar setiap pagi nya dan menyiapkan jualan nya di Universitas Bunda Mulia tempat biasa dia mencari nafkah. Terus dan terus setiap hari kakek ini melakukannya, terkadang ketika beliau merasa sakitpun beliau tetap berjualan karena bila tidak,  Keluarganya tidak bisa makan dan tidak bisa memberi Uang jajan Kuliah untuk Putranya.
Sudah hampir 10 tahun beliau berjualan, namun bukan hanya berjualan mie ayam saja beliau juga pernah menjadi buruh pabrik, berpindah pindah pabrik dan juga pernah berjualan jamu di pinggir jalan selama 10 tahun tetapi karna krisis ekonomi tahun 98 beliau gulung tikar dan akhirnya usaha jualan katering makanan ,sampai akhir nya usaha yang tetap masi bertahan dan terus beliau jalani berjualan mie ayam di Universitas Bunda mulia. Beliau tidak merasa lelah dan capek dalam melakukan sebuah pekerjaan nya yang sangat tidak cocok untuk seumuran Beliau. Namun menurut  kakek parubaya ini Umur bukanlah suatu hambatan untuk mencari nafkah demi keluarganya.
Kehidupan manusia memanglah  tak semuanya indah dan sama, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang gampang dan ada yang susah. Begitulah kehidupan di Dunia ini. Apa yang kamu inginkan harus kamu kerjakan terlebih dahulu.

Post blog dari: Johanes (johanes777.blogspot.co.id).
Berikut adalah post blog yang lebih baik:

Tony atau yang lebih dikenal sebagai Ahon ini biasa kita jumpai di Kantin Luar UBM atau yang biasa disebut sebagai “bedeng” menjual bakmi. Perawakan seperti pada umumnya orang dewasa, dengan rambut yang sudah agak memutih dan muka yang agak keriput, Tony tidak patah semangat untuk bekerja. Keramahan yang Ia berikan terhadap setiap pembelinya juga menjadi faktor utama keramaian usaha bakmi tersebut. Setiap pelayanannya sangatlah asik dan tidak kaku waktu berkomunikasi dengan orang lain dan juga senyum yang selalu melengkung dari wajahnya membuat setiap orang yang berbicara dengannya menjadi bahagia. Di samping itu, cita rasa yang diberikan oleh setiap masakan Tony sangatlah menggugah selera. Tidak sedikit orang yang memesan menu makanan pada Tony ini menambah porsi makanannya supaya terpuaskan hasrat akan bakmi tersebut.
          Lelaki kelahiran 1955 ini memiliki latar belakang cerita yang sangat inspiratif. Berbekal niat dan kemauan yang kuat untuk bekerja, pada tahun 1975, Tony memutuskan untuk terbang ke Tangerang dari Kalimantan untuk mengadu nasib di kota besar. Memulai pekerjaan sebagai buruh pabrik di sebuah perusahaan resleting milik Hongkong, Tony cukup puas dengan penghasilannya yang lumayan tersebut. Pada awal tahun 1984, Ia mulai jenuh dengan pekerjaannya, sehingga Ia mengundurkan diri dan memulai usahanya sendiri sebagai penjual jamu. Menjadi penjual jamu adalah sebuah mata pencaharian yang dipandang sebelah mata sekarang ini. Namun, itu tidak dipikirkan oleh Tony saat itu. Banyak hal yang Ia dapatkan saat menjadi penjual jamu. Tony menjual jamu di kalangan pabrik. Maka dari itu, Ia mendapat banyak informasi dari segenap buruh pabrik yang mampir di kedai jamunya tersebut. Mulai dari keadaan pabrik, birokrasi sampai dengan politik bias Tony dapatkan dari mereka hanya dengan berbicara akrab saja dengan mereka. Tony menggeluti usaha jamunya ini hingga 10 tahun lamanya. Ia berhenti karena adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat itu. Krisis ekonomi yang terjadi saat itu menyebabkan pabrik pabrik yang ada menjadi bangkrut, oleh karena itu buruh buruh pabrik yang menjadi langganan Tony satu persatu kembali ke tempat asalnya dan kedai jamu yang Tony miliki sudah tidak memiliki pelanggan lagi.
          Bapak dari 2 anak ini meneruskan pekerjaannya dengan usaha catering. Mulai belajar untuk memasak hidangan hidangan yang lezat dan juga dengan bantuan istri. Namun pada tahun 2002, istrinya meninggal. Namun, Ia tetap meneruskan usahanya sampai tahun 2005. Setelah itu barulah Ia membuka usaha di “bedeng” menjual bakmi hingga saat ini.

Senin, 21 September 2015

Keriput bukan berarti Tua, Tua bukan berarti Lemah


 “Kalau masih bisa kerja, ya kerja! Kebanyakan di rumah kalo udah tua gampang mati!” kata Tony “Ahon”


          Tony atau yang lebih dikenal sebagai Ahon ini biasa kita jumpai di Kantin Luar UBM atau yang biasa disebut sebagai “bedeng” menjual bakmi. Perawakan seperti pada umumnya orang dewasa, dengan rambut yang sudah agak memutih dan muka yang agak keriput, Tony tidak patah semangat untuk bekerja. Keramahan yang Ia berikan terhadap setiap pembelinya juga menjadi faktor utama keramaian usaha bakmi tersebut. Setiap pelayanannya sangatlah asik dan tidak kaku waktu berkomunikasi dengan orang lain dan juga senyum yang selalu melengkung dari wajahnya membuat setiap orang yang berbicara dengannya menjadi bahagia. Di samping itu, cita rasa yang diberikan oleh setiap masakan Tony sangatlah menggugah selera. Tidak sedikit orang yang memesan menu makanan pada Tony ini menambah porsi makanannya supaya terpuaskan hasrat akan bakmi tersebut.
          Lelaki kelahiran 1955 ini memiliki latar belakang cerita yang sangat inspiratif. Berbekal niat dan kemauan yang kuat untuk bekerja, pada tahun 1975, Tony memutuskan untuk terbang ke Tangerang dari Kalimantan untuk mengadu nasib di kota besar. Memulai pekerjaan sebagai buruh pabrik di sebuah perusahaan resleting milik Hongkong, Tony cukup puas dengan penghasilannya yang lumayan tersebut. Pada awal tahun 1984, Ia mulai jenuh dengan pekerjaannya, sehingga Ia mengundurkan diri dan memulai usahanya sendiri sebagai penjual jamu. Menjadi penjual jamu adalah sebuah mata pencaharian yang dipandang sebelah mata sekarang ini. Namun, itu tidak dipikirkan oleh Tony saat itu. Banyak hal yang Ia dapatkan saat menjadi penjual jamu. Tony menjual jamu di kalangan pabrik. Maka dari itu, Ia mendapat banyak informasi dari segenap buruh pabrik yang mampir di kedai jamunya tersebut. Mulai dari keadaan pabrik, birokrasi sampai dengan politik bias Tony dapatkan dari mereka hanya dengan berbicara akrab saja dengan mereka. Tony menggeluti usaha jamunya ini hingga 10 tahun lamanya. Ia berhenti karena adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat itu. Krisis ekonomi yang terjadi saat itu menyebabkan pabrik pabrik yang ada menjadi bangkrut, oleh karena itu buruh buruh pabrik yang menjadi langganan Tony satu persatu kembali ke tempat asalnya dan kedai jamu yang Tony miliki sudah tidak memiliki pelanggan lagi.
          Bapak dari 2 anak ini meneruskan pekerjaannya dengan usaha catering. Mulai belajar untuk memasak hidangan hidangan yang lezat dan juga dengan bantuan istri. Namun pada tahun 2002, istrinya meninggal. Namun, Ia tetap meneruskan usahanya sampai tahun 2005. Setelah itu barulah Ia membuka usaha di “bedeng” menjual bakmi hingga saat ini.
          “Kalau masih bisa kerja, ya kerja! Kebanyakan di rumah kalo udah tua gampang mati!” kata Tony saat saya mewawancarainya di Bakmi Cicong miliknya. Hal inspiratif yang saya dapat adalah Jangan menyerah dan konsisten pada apa yang kita tuju.

Senin, 07 September 2015

Karena Berseteru, Seorang Menantu Tega Bacok Mertua


          Warga Dusun Kilet, Desa Karangdowo, Kecamatan Sumberrejo, Bojonegoro, Jawa Timur akhir akhir ini digegerkan oleh ulah Karyanto (25) yang membacok mertua sekaligus adik iparnya. Disebabkan oleh adanya perseteruan antara Karyanto dengan Darmo Jenggirat (50) yang adalah Bapak dari Rima (23), istri Karyanto.
          Awal kejadian adalah ketika Karyanto sedang berada di rumah karena memang Ia seorang pengangguran. Sang Mertua mengucapkan kata kata pedas tentang status pekerjaannya tersebut. Kejadian tersebut terjadi pada bulan puasa, bukannya menahan amarah, Karyanto malah membabi buta membacok Darmo beserta istrinya dan sang adik ipar yang hendak membantu Ayah dan Ibunya.
          Setelah warga mengetahui kejadian ini, Darmo beserta istri dan anaknya segera dibawa ke RS terdekat. Keberadaan Karyanto hingga saat ini masih belum diketahui, karena sesudah kejadian tersebut, Ia melarikan diri. Polisi Polres Bojonegoro pun segera memburu Karyanto untuk ditindak lebih lanjut. (Pos Kota, 24 Juni 2015)