Toni adalah
seorang kakek tua yang berumur 60 tahun. kakek parubaya ini memiliki 1 Istri
dan mempunyai 2 anak,1 putri dan 1
putra. Ke dua anaknya ,satu telah menikah dan sudah tidak serumah lagi dengan
Beliau, hanya siputra bungsulah yang masih tinggal serumah dengan beliau. Di
usianya yang sudah tua beliau tetap bekerja keras demi menafkahi keluarganya dan
membiayai putra terakhirnya untuk meneruskan sekolah.
Keadaan ekonomilah yang membuat kakek tuan rentan
ini nekat dan terus bekerja demi
mengumpulkan pundi-pundi Uang receh dari penghasilan berjualan Mie ayam, yang
Uang hasilnya beliau gunakan untuk menafkahi keluarganya dirumah dan mebiayai
putranya kuliah perguruan tinggi. Setiap hari kakek setengah abad lewat ini,
bangun pagi bahkan sebelum matahari terbit Beliau sudah siap dengan motor dan
keranjangnya untuk belanja ke pasar setiap pagi nya dan menyiapkan jualan nya
di Universitas Bunda Mulia tempat biasa dia mencari nafkah. Terus dan terus
setiap hari kakek ini melakukannya, terkadang ketika beliau merasa sakitpun
beliau tetap berjualan karena bila tidak,
Keluarganya tidak bisa makan dan tidak bisa memberi Uang jajan Kuliah
untuk Putranya.
Sudah hampir 10 tahun beliau berjualan, namun bukan
hanya berjualan mie ayam saja beliau juga pernah menjadi buruh pabrik,
berpindah pindah pabrik dan juga pernah berjualan jamu di pinggir jalan selama
10 tahun tetapi karna krisis ekonomi tahun 98 beliau gulung tikar dan akhirnya
usaha jualan katering makanan ,sampai akhir nya usaha yang tetap masi bertahan
dan terus beliau jalani berjualan mie ayam di Universitas Bunda mulia. Beliau
tidak merasa lelah dan capek dalam melakukan sebuah pekerjaan nya yang sangat
tidak cocok untuk seumuran Beliau. Namun menurut kakek parubaya ini Umur bukanlah suatu
hambatan untuk mencari nafkah demi keluarganya.
Kehidupan manusia memanglah tak semuanya indah dan sama, ada yang miskin
dan ada yang kaya, ada yang gampang dan ada yang susah. Begitulah kehidupan di
Dunia ini. Apa yang kamu inginkan harus kamu kerjakan terlebih dahulu.
Berikut adalah post blog yang lebih baik:
Tony atau yang lebih
dikenal sebagai Ahon ini biasa kita jumpai di Kantin Luar UBM atau yang biasa
disebut sebagai “bedeng” menjual bakmi. Perawakan seperti pada umumnya orang
dewasa, dengan rambut yang sudah agak memutih dan muka yang agak keriput, Tony
tidak patah semangat untuk bekerja. Keramahan yang Ia berikan terhadap setiap
pembelinya juga menjadi faktor utama keramaian usaha bakmi tersebut. Setiap
pelayanannya sangatlah asik dan tidak kaku waktu berkomunikasi dengan orang
lain dan juga senyum yang selalu melengkung dari wajahnya membuat setiap orang
yang berbicara dengannya menjadi bahagia. Di samping itu, cita rasa yang
diberikan oleh setiap masakan Tony sangatlah menggugah selera. Tidak sedikit
orang yang memesan menu makanan pada Tony ini menambah porsi makanannya supaya
terpuaskan hasrat akan bakmi tersebut.
Lelaki kelahiran 1955 ini memiliki latar
belakang cerita yang sangat inspiratif. Berbekal niat dan kemauan yang kuat
untuk bekerja, pada tahun 1975, Tony memutuskan untuk terbang ke Tangerang dari
Kalimantan untuk mengadu nasib di kota besar. Memulai pekerjaan sebagai buruh
pabrik di sebuah perusahaan resleting milik Hongkong, Tony cukup puas dengan
penghasilannya yang lumayan tersebut. Pada awal tahun 1984, Ia mulai jenuh
dengan pekerjaannya, sehingga Ia mengundurkan diri dan memulai usahanya sendiri
sebagai penjual jamu. Menjadi penjual jamu adalah sebuah mata pencaharian yang
dipandang sebelah mata sekarang ini. Namun, itu tidak dipikirkan oleh Tony saat
itu. Banyak hal yang Ia dapatkan saat menjadi penjual jamu. Tony menjual jamu
di kalangan pabrik. Maka dari itu, Ia mendapat banyak informasi dari segenap
buruh pabrik yang mampir di kedai jamunya tersebut. Mulai dari keadaan pabrik,
birokrasi sampai dengan politik bias Tony dapatkan dari mereka hanya dengan
berbicara akrab saja dengan mereka. Tony menggeluti usaha jamunya ini hingga 10
tahun lamanya. Ia berhenti karena adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia
saat itu. Krisis ekonomi yang terjadi saat itu menyebabkan pabrik pabrik yang
ada menjadi bangkrut, oleh karena itu buruh buruh pabrik yang menjadi langganan
Tony satu persatu kembali ke tempat asalnya dan kedai jamu yang Tony miliki
sudah tidak memiliki pelanggan lagi.
Bapak dari 2 anak ini meneruskan pekerjaannya dengan usaha catering.
Mulai belajar untuk memasak hidangan hidangan yang lezat dan juga dengan
bantuan istri. Namun pada tahun 2002, istrinya meninggal. Namun, Ia tetap
meneruskan usahanya sampai tahun 2005. Setelah itu barulah Ia membuka usaha di
“bedeng” menjual bakmi hingga saat ini.
