Senin, 23 November 2015

Berpetualang di Dunia Fantasi




            Dunia Fantasi atau kerap kali dikenal dengan singkatan DuFan ini dikenal dengan banyaknya wahana yang ada didalamnya. Terkenal dari Halilintar sampai dengan Kora-Kora sangatlah digemari oleh semua kalangan dari orang tua sampai anak kecil. Dunia Fantasi yang diresmikan pada 29 Agustus 1985 ini terletak di kompleks Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Indonesia. Dunia Fantasi memiliki maskot berupa kera bekantan yang diberinama Dufan. Kera bekantan menjadi maskot Dufan karena untuk mengingat bahwa kawasan Ancol adalah kawasan kera. Akses menuju Dufan cukup mudah karena cukup strategis. Bisa menggunakan angkot m15, Transjakarta, jika menggunakan mobil aksesnya cukup mudah karena pintu masuk Taman Impian Jaya Ancol dekat dengan tol. Saya lebih memilih dengan motor karena lebih cepat mengitari padatnya Jakarta. Masuk kompleks Taman Impian Jaya Ancol, lalu membayar biaya masuk sekitar enam puluh ribu rupiah dan mengambil karcis masuk, setelah itu tinggal lurus maka akan terlihat Dunia Fantasi. Membayar tarif normal untuk tiket masuk DuFan adalah Rp. 250.000,- pada hari libur jika hari biasa hanya Rp. 180.000,-. 
Hasil gambar untuk taman impian jaya ancol 
            Masuk dari pintu masuk, kita akan melewati lorong teras yang diiringi dengan musik khas Dufan. Setelah itu kita akan disambut dengan patung Dufan yang besar yang biasa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk berfoto foto. Puas berfoto foto kita akan lewat pintu masuk untuk di cap yang disahkan untuk menandakan bahwa kita menjadi pengunjung resmi Dufan.

Hasil gambar untuk taman impian jaya ancol 


Saat kita masuk akan terlihat wahana pertama kali yaitu Turangga-Rangga. Lebih dikenal sebagai KomidiPutar. Bagusnya dinikmati saat malam hari karena nyala lampu terang yang ada di dalam sangatlah indah. Sambil menunggangi kuda-kudaan atau cukup untuk duduk di bangku sambil berputar putar. Setelah itu ada bianglala, sebuah kincir besar yang bisa dinaiki seperti semacam gazebo yang digantung.Ketinggiannya cukup tinggi hingga dapat melihat kawasan Jakarta dariatas. Jika sore hari kita dapat melihat matahari terbenam dari atas. Selanjutnya ada Kora-Kora yaitu berbentuk seperti kapal namun tak ada airnya. Berayun kedepan kebelakang menumbuhkan sensasi kapal yang terombang ambing. Ada juga wahana Hysteria  yang berupa dua tiang tinggi yang diberi tempat duduk lalu akan dilempar keatas kebawah setelah kita diberi aba aba. Saya cukup "ngilu" karena saya agak takut akan ketinggian. Tetapi saya sangat suka pemandangan di atas walau hanya beberapa detik tapi saya sangat menikmatinya. Selanjutnya ada istana boneka yang letaknya tidak jauh dari Hysteria. Bentuknya seperti istana sungguhan dengan jembatan untuk mengantri. Nantinya pengunjung akan mengendarai perahu untuk masuk ke dalam istana boneka tersebut. Saat berada di dalam istana boneka, pengunjung akan melihat berbagai boneka bergerak dengan pakaian dan budaya nusantara Indonesia diiringi lagu khas atau jingle dari istana boneka tersebut. Di akhir perjalanan, akan terlihat boneka boneka yang ada seperti mengucapkan selamat tinggal dan kita akan kembali ke bagian luar istana boneka. Ada pula wahana rumah miring yang didalamnya terdapat sensasi seperti kita berada di rumah yang miring padahal rumah tersebut posisinya rata sesuai dengan tanah.

Sesaat setelah menikmati wahana yang ada, apabila kita lapar kita bisa menikmati makanan yang ada dengan mengunjungi restoran atau food court yang ada. Mungkin juga untuk beristirahat sejenak karena banyak spot untuk duduk santai serta melegakan kaki seperti ada padepokan di pinggir danau juga tempat duduk di bawah pohon yang rindang. Namun apabila anda tetap ingin bermain tetapi sambil santai pula, bisa juga bermain bebek air di sekitar danau Dunia Fantasi.

              Masih banyak permainan lain seperti Halilintar, Arum Jeram, Ice Age, happy Feet dan masih banyak lagi. Dunia Fantasi memang sebuah tempat wisata wajib yang harus dikunjungi oleh semua orang. Penasaran? Kunjungi sendiri dan rasakan sendiri petualanganmu!

Senin, 26 Oktober 2015

Kaitan Kode Etik Jurnalistik dengan "Pinocchio"


Serial Drama Korea “Pinocchio”

          Bercerita tentang kehidupan wartawan/jurnalis di sebuah perusahaan penyiaran. Selayaknya seorang wartawan, para wartawan ini juga bertugas untuk mencari fakta atau informasi yang bertujuan untuk menacri sebuah kebenaran. Tetapi ada yang menarik dari para wartawan ini, ialah Park Shin Hye yang dalam film ini berperan sebagai Choi In Ha ternyata memiliki kelainan yang unik. Choi In Ha memiliki "Sindrom Pinocchio" yang mana jika ia bebohong maka ia akan mengalami cegukan yang keras. Lain halnya dengan Choi Dal Po (Lee Jong Suk) yang merupakan wartawan baru yang belum berpengalaman. Mekipun memiliki paras yang tampan namun pria satu ini sangat buruk dalam hal berpenampilan. Tak heran jika Choi Dal Po banyak diremehkan orang lain mekipun sebenarnya dia adalah orang yang sangat pandai berbicara.
          Keterkaitannya dengan Kode Etik Jurnalistik adalah bagaimana cara wartawan dalam mencari berita karena terlalu memaksa dan menekan pihak korban untuk terus menjawab pertanyaan yang sensitif serta bisa memicu keributan orang orang disekitarnya. Karena rumah Ha-Myung dan keluarganya dekat dengan rumah korban yang lain, sehingga setiap sang wartawan meliput berita tentang kasus tersebut, orang-orang yang berada dekat rumahnya langsung berkerumun. Hal tersebut menimbulkan depresi yang sangat tinggi terhadap ibu Ha-Myung yang menyebabkan ibu Ha-Myung mengikutsertakan Ha-Myung untuk bunuh diri, meninggalkan Ki Ja-Myung yang dikira telah kabur oleh keluarganya. Kejadian tersebut berlangsung menjadi sebuah kepahitan dan dendam yang terpendam dalam diri Ha-Myung dan Jae-Myung.
          Karena itu, kode etik jurnalistik perlu di realisasikan karena bias berdampak buruk jika kita menanyakan sesuatu yang menyinggung apalagi saat kita mewawancarai orang lain saat live dan disaksikan oleh banyak orang. Karena media bisa membentuk opini publik serta mengontrol publik untuk mempercayai suatu berita.

Senin, 28 September 2015

Perbaikan Feature Johanes


         
 Toni adalah seorang kakek tua yang berumur 60 tahun. kakek parubaya ini memiliki 1 Istri dan mempunyai  2 anak,1 putri dan 1 putra. Ke dua anaknya ,satu telah menikah dan sudah tidak serumah lagi dengan Beliau, hanya siputra bungsulah yang masih tinggal serumah dengan beliau. Di usianya yang sudah tua beliau tetap bekerja keras demi menafkahi keluarganya dan membiayai putra terakhirnya untuk meneruskan sekolah.
Keadaan ekonomilah yang membuat kakek tuan rentan ini  nekat dan terus bekerja demi mengumpulkan pundi-pundi Uang receh dari penghasilan berjualan Mie ayam, yang Uang hasilnya beliau gunakan untuk menafkahi keluarganya dirumah dan mebiayai putranya kuliah perguruan tinggi. Setiap hari kakek setengah abad lewat ini, bangun pagi bahkan sebelum matahari terbit Beliau sudah siap dengan motor dan keranjangnya untuk belanja ke pasar setiap pagi nya dan menyiapkan jualan nya di Universitas Bunda Mulia tempat biasa dia mencari nafkah. Terus dan terus setiap hari kakek ini melakukannya, terkadang ketika beliau merasa sakitpun beliau tetap berjualan karena bila tidak,  Keluarganya tidak bisa makan dan tidak bisa memberi Uang jajan Kuliah untuk Putranya.
Sudah hampir 10 tahun beliau berjualan, namun bukan hanya berjualan mie ayam saja beliau juga pernah menjadi buruh pabrik, berpindah pindah pabrik dan juga pernah berjualan jamu di pinggir jalan selama 10 tahun tetapi karna krisis ekonomi tahun 98 beliau gulung tikar dan akhirnya usaha jualan katering makanan ,sampai akhir nya usaha yang tetap masi bertahan dan terus beliau jalani berjualan mie ayam di Universitas Bunda mulia. Beliau tidak merasa lelah dan capek dalam melakukan sebuah pekerjaan nya yang sangat tidak cocok untuk seumuran Beliau. Namun menurut  kakek parubaya ini Umur bukanlah suatu hambatan untuk mencari nafkah demi keluarganya.
Kehidupan manusia memanglah  tak semuanya indah dan sama, ada yang miskin dan ada yang kaya, ada yang gampang dan ada yang susah. Begitulah kehidupan di Dunia ini. Apa yang kamu inginkan harus kamu kerjakan terlebih dahulu.

Post blog dari: Johanes (johanes777.blogspot.co.id).
Berikut adalah post blog yang lebih baik:

Tony atau yang lebih dikenal sebagai Ahon ini biasa kita jumpai di Kantin Luar UBM atau yang biasa disebut sebagai “bedeng” menjual bakmi. Perawakan seperti pada umumnya orang dewasa, dengan rambut yang sudah agak memutih dan muka yang agak keriput, Tony tidak patah semangat untuk bekerja. Keramahan yang Ia berikan terhadap setiap pembelinya juga menjadi faktor utama keramaian usaha bakmi tersebut. Setiap pelayanannya sangatlah asik dan tidak kaku waktu berkomunikasi dengan orang lain dan juga senyum yang selalu melengkung dari wajahnya membuat setiap orang yang berbicara dengannya menjadi bahagia. Di samping itu, cita rasa yang diberikan oleh setiap masakan Tony sangatlah menggugah selera. Tidak sedikit orang yang memesan menu makanan pada Tony ini menambah porsi makanannya supaya terpuaskan hasrat akan bakmi tersebut.
          Lelaki kelahiran 1955 ini memiliki latar belakang cerita yang sangat inspiratif. Berbekal niat dan kemauan yang kuat untuk bekerja, pada tahun 1975, Tony memutuskan untuk terbang ke Tangerang dari Kalimantan untuk mengadu nasib di kota besar. Memulai pekerjaan sebagai buruh pabrik di sebuah perusahaan resleting milik Hongkong, Tony cukup puas dengan penghasilannya yang lumayan tersebut. Pada awal tahun 1984, Ia mulai jenuh dengan pekerjaannya, sehingga Ia mengundurkan diri dan memulai usahanya sendiri sebagai penjual jamu. Menjadi penjual jamu adalah sebuah mata pencaharian yang dipandang sebelah mata sekarang ini. Namun, itu tidak dipikirkan oleh Tony saat itu. Banyak hal yang Ia dapatkan saat menjadi penjual jamu. Tony menjual jamu di kalangan pabrik. Maka dari itu, Ia mendapat banyak informasi dari segenap buruh pabrik yang mampir di kedai jamunya tersebut. Mulai dari keadaan pabrik, birokrasi sampai dengan politik bias Tony dapatkan dari mereka hanya dengan berbicara akrab saja dengan mereka. Tony menggeluti usaha jamunya ini hingga 10 tahun lamanya. Ia berhenti karena adanya krisis ekonomi yang melanda Indonesia saat itu. Krisis ekonomi yang terjadi saat itu menyebabkan pabrik pabrik yang ada menjadi bangkrut, oleh karena itu buruh buruh pabrik yang menjadi langganan Tony satu persatu kembali ke tempat asalnya dan kedai jamu yang Tony miliki sudah tidak memiliki pelanggan lagi.
          Bapak dari 2 anak ini meneruskan pekerjaannya dengan usaha catering. Mulai belajar untuk memasak hidangan hidangan yang lezat dan juga dengan bantuan istri. Namun pada tahun 2002, istrinya meninggal. Namun, Ia tetap meneruskan usahanya sampai tahun 2005. Setelah itu barulah Ia membuka usaha di “bedeng” menjual bakmi hingga saat ini.